Momen Kebangkitan Olahraga Kalbar

PEKAN Olahraga Provinsi (Porprov) Kalbar X 2010, Sabtu (24/7), dibuka Gubernur Kalbar Cornelis di Stadion Sultan Syarief Abdurrahman Kota Pontianak.

Harapan kita membuncah. Asa supremasi prestasi gemilang dari 32 cabang olahraga yang dipertandingkan mengristal. Prestasi yang berpijak talenta, sarat kepiawaian dan seni berolahraga.

Torehan prestasi gemilang, menjadi modal bersaing dengan saudara-saudara kita se-Tanah Air, manakala Pekan Olahraga Nasional digelar. Tak sampai di situ, di era Global, kecemerlangan prestasi atlet daerah potensial memuluskan jalan go international.

Daud “Cino” Jordan, contohnya. Petinju asal Kayong Utara sekaligus kebanggaan Kalbar ini, telah membuktikan mampu menembus Amerika Serikat. Bukan berlaga amatiran, melainkan tanding di pentas profesional yang digelar badan tinju dunia.

Mampukah kita yang tinggal di perbatasan, baik Kapuas Hulu, Sekadau maupun Sambas meretas prestasi internasional? Jawabnya, tak ada yang tak mungkin. Syaratnya, ada bakat dan kemauan keras untuk sukses.

Bakat dan kemauan untuk terus belajar dan mengasah diri menjadi atlet luar biasa. Tentu, mental kita juga “wajib” dibangun seperti batu cadas. Tak retak, manakala kena bantingan atau benturan dahsyat sekalipun.

Umumnya, bangsa kita punya bakat besar, tetapi lemah kemauan maupun mental. Akibatnya, sampai kini, kita menjadi penonton kehebatan atlet-atlet dunia. Kita bahkan rela mengeluarkan uang besar demi piala dunia sepakbola di Afsel.

Menjelang event itu, kita ramai-ramai membeli antene UHF, bahkan memanfaatkan jasa televisi kabel. Tujuannya, tak mau melewatkan aksi para bintang dunia. Kita pun menjadi tak sadar, “jatuh hati” pada bintang Spanyol Xavi, Lionel Messi dari Argentina, Cristiano Ronaldo dari Portugal maupun Ricardo Kaka dari Brasil.

Jika kita jujur, kecintaan kita terhadap para bintang dunia itu, sangat tak sebanding dengan bintang nasional kita, apalagi bintang daerah. Mengapa semua ini terjadi berdasa-dasa warsa? Sangat tak bijak jika kita beralasan mereka dilahirkan sebagai maestro sepakbola.

Messi, Xavi, Ronaldo maupun Kaka, bukan mendadak jadi bintang. Mereka memulai dari kecintaan main bola. Bakat mereka pun diasah sejak dini. Dan, tekad mereka terus menyala.

Pelahan-lahan talenta mereka bersinar dan menggoda klub-klub profesional Eropa untuk merekrutnya. Kita tak boleh apriori, mereka bisa bersinar karena dana besar.

Atlet Antardaerah
Negara Argentina dan Brasil yang menjadi “gudang” pemain andal dunia, perekonomiannya tak lebih baik dari negeri kita. Tak sedikit warga Amerika Selatan itu yang masih buta huruf, miskin dan hidupnya menggelandang.

Kita juga tak boleh berdalih, manakala masih ada anggapan vitalitas orang Bule lebih dahsyat dari kita, orang Asia. Bagaimana dengan Park Ji Sung, pemain Korsel yang menjadi bintang di klub raksasa Inggris, Manchester United?

Demikian pula Keisuke Honda, pemain Jepang yang bermain di CSKA Moskow, dielu-elukan publik Rusia. Teramat banyak pemain Asia yang telah go international, tak hanya di sepakbola.

Satu-satunya masalah yang jadi aral menahun, dan wajib direformasi adalah, sistem dan metode kompetisi yang diwadahi badan-badan olahraga nasional kita. Pemerintah niscaya harus meletakkan sendi profesionalitas, integritas dan akuntabilitas cabang apapun.

Berapa pun dana yang dialokasikan, tanpa reformasi struktural fungsional kelembagaan yang ada, uang rakyat terbuang sia-sia. Akibat stagnasi ini pula, keindahan dan kejeniusan bermain bola atau olahraga lain, tak muncul.

Yang terjadi sebaliknya. Sepakbola kita identik olahraga tawuran. Cabang olahraga lain pun cenderung mengedepankan pertikaian, konflik bahkan sampai fisik. Kita patut bertanya pada diri sendiri. Apa yang kita cari dalam olahraga?

Esensinya tentu sehat. Tetapi, melalui olahraga membuka peluang multiplier effect yang positif di sektor perekonomian dan hiburan. Pastinya, perlu syarat keindahan, kepiawaian dan kisah-kisah dramatik memainkan seni berolahraga.

Tak ada yang terlambat berbuat baik. Momentum Porprov Kalbar, wajib dijadikan tonggak kebangkitan meretas prestasi gemilang yang bisa membuka peluang go international. Ketulusan dan kejujuran segenap atlet, ofisial dan pemangku daerah menjadi utama.

Jangan sebaliknya! Ajang Porprov dijadikan pertaruhan gengsi daerah, seperti pengalaman daerah lain di negeri kita. Menghalalkan segala cara. Jual-beli atlet antardaerah pun ditempuh. Bukan membangkitkan atlet daerah, justru mematikan potensi daerah. Mari cintai daerah kita!

sumber: tribun pontianak edisi cetak
editor: alb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: